Desain Web: Kerjasama Pengguna, Penyedia Jasa dan Klien

BAYANGKAN ketika kita memasuki situs Coca Cola (http://www.cocacola.com) dengan tanpa botol warna merah nyala dan background merahnya, maka dengan segera pertanyaan timbul “botol”nya mana? Atau bayangkan kita masuk ke situs Esprit (http://www.esprit.com) tapi warna yang muncul pertama kali adalah warna-warna yang redup. Membayangkan masuk ke situs IBM (http://www.ibm.com) maka secara implisit yang terbayang adalah warna biru sebagai foreground-nya.

Warna merah segera hadir dalam memori kita ketika kita hendak masuk ke situs KFC (http://www.kfc.com) lengkap dengan ayamnya. Membayangkan sebuah situs berlabelkan teknologi, maka yang akan timbul adalah navigasi yang high-tech, papan informasi yang easy to learn dan penuh dengan kejutan-kejutan futuristik, warna-warna perak metalik dengan ikon-ikon yang jauh dari yang kita bayangkam sekarang.

Mereka-reka sebuah situs sebelum situs itu kita masuki menjadi kegiatan yang mengasyikkan karena kegiatan inilah yang menjadi dasar dinamika manusia itu sendiri. Namun sering kali betapa kecewanya pengguna ketika masuk ke sebuah situs tersebut ternyata tidak sesuai dengan apa yang diharapkan. Alih- alih dapat informasi yang sepadan dengan biaya yang dikeluarkan untuk menjelajah situs Web, maka secara cepat pulalah pengguna akan menggerakkan mouse-nya untuk mencari situs yang sesuai dengan keinginannya.

Perkembangan desain Web di Indonesia mengalami kemajuan yang cukup cerah, hal ini ditandai dengan masih banyaknya permintaan dari beberapa perusahaan untuk tereksploitasi secara luas melalui Internet. Banyaknya permintaan ini diawali dengan makin banyaknya jasa layanan penyedia akses ke jaringan Internet yang semakin memperluas daya jangkauannya, hingga minat untuk menjelajah juga mengalami tanda-tanda kenaikan.

Hal ini patut disyukuri sebagai limpahan berkah bagi para jasa layanan perancang Web dengan adanya kenaikan persentase minat pembuatan situs-situs tersebut. Dengan variatif beberapa jasa layanan tersebut mengatur layanan dengan beberapa fasilitas yang lebih memikat klien. Bersama untuk saling berbenah dan berkembang antara desainer Web dengan penyedia teknologi atau software menjadi titik tolak kebangkitan desain Web di Indonesia.

Pertumbuhan eksponensial

Dengan mengandalkan kualitas dan kuantitas secara perorangan ataupun kelompok, jasa layanan desain Web ini mengalami grafik peningkatan yang cukup signifikan. Ini ditandai dengan bermunculannya situs-situs Web, baik milik perorangan ataupun perusahaan di Internet.

Ada yang hanya mengandalkan sistematika direct management yaitu semua ditangani sendiri secara langsung mulai dari proses praproduksi hingga pasca produksi. Ada juga dengan sistematika manajerial yang makin kompleks yang dengan serta merta menaikkan penawaran harganya.

Hal ini juga diikuti dengan booming berbagai perangkat lunak baru yang dikeluarkan baik secara periodik maupun sesekali saja. Adobe Photoshop 6 (http:// www.adobe.com) dengan fitur yang lebih serius menggarap wilayah desain Web dengan beberapa plug-in-nya yang selalu keluar bersamaan. Deretan software yang dikeluarkan oleh Adobe ini tidak kurang dari 28 jenis software, yang terbagi dalam software font, page builder, plug-ins, animasi, dan tiga dimensi (3D.) Deretan itu antara lain untuk animasi terdapat Go Live 5.0, Premiere 6.0, Live Motion 1.0, untuk page builder terdapat Go Live 5.0 dan Page Maker 6.52.

Tak mau kalah dengan tantangan Adobe, maka Corel (http: //www.corel.com) pun menjawab tantangan tersebut dengan mengeluarkan Corel 10 dengan fitur-fitur yang lebih menantang desainer untuk mengeksplorasi citra, dan juga dikeluarkannya Corel Rave menambah deretan software animasi. Flash 5 (http: //www.macromedia.com), misalnya, menjawab tantangan para flasher mania dengan menambahkan shortcut tools yang lebih friendly dengan tambahan script yang makin beragam. Dengan mengembangkan Dreamwever 4.0-nya maka Macromedia meramaikan bisnis pembuatan situs Web ini.

Di sisi lain, muncul berbagai kendala mengenai format file yang memang merupakan sebuah persoalan yang telah lama terjadi. Tak kurang beberapa software telah mengeluarkan jenis-jenis format file yang menjadi optional bagi para pengguna untuk mengembangkannya. Se-bagai contoh, dengan dikeluarkannya Swift 3D (http://www. swift3d.com) untuk menjawab permintaan flasher mania yang mengalami kesulitan dalam membuat animasi 3D dengan kapasitas bytes yang cukup kecil dan mudah untuk dieskpor (transfer) ke Flash 5. Swish 2.0 (http://www.swishzone.com) pun merambah daerah animasi dengan konversi file yang mudah dengan menempatkan pada animasi 2D.

Perbendaharaan situs pun diperkaya dengan deretan software audio yang cukup signifikan. Dimulai dari Acid Pro 3 keluaran Sonic Foundry (http:// www.sonicfoundry.com) yang dengan setia menerbitkan fitur-fitur yang lebih menggigit untuk para penggunanya. Di antaranya, kita dapat mengolah dan memotong file wav langsung di board-nya. Selain itu, beberapa plug-in yang juga dikeluarkan bersamaan, seperti Sound Forge. Kelebihan software ini juga pada konversi file yang optionable. Tak mau kalah dengan Sonic Foundry, CakeWalk 9.03 (http:// www.cakewalk.com) yang mengeluarkan beberapa plug-in. Juga menarik untuk diekplorasi, seperti Groove Maker 2.0.

Ketika pengguna semakin mendambakan situs yang lebih interaktif, maka munculnya Pulse 3D (http:// www.pulse3d. com) yang makin menambah perbendaharaan piranti desainer Web untuk lebih menuangkan ide-ide yang lebih kreatif. Software ini memungkinkan pengguna untuk lebih mempunyai interaksi yang intens.

Sedangkan dari sisi pemilihan huruf (font), telah dikeluarkan tak kurang dari 200 ribu jenis font yang mengalami grafik pertumbuhan eksponensial, sehingga ide-ide yang muncul akan dapat dituangkan dengan sempurna. Sebuah angka yang cukup memudahkan para desainer Web untuk lebih menelorkan ide-ide orisinalnya.

Ide orisinal

Hendak ke mana desain Web Indonesia? Pertanyaan ini kemudian segera mungkin terlintas, mengingat kurangnya pertumbuhan ide-ide orisinil yang dikeluarkan oleh desainer Web Indonesia. Tak pelak ini menjadi pertanyaan yang cukup serius. Fitur-fitur yang membosankan dengan mengandalkan sistem navigasi yang kurang menggugah semangat untuk mencoba, bahkan beberapa situs memainkan warna yang kurang sedap dipandang. Apa sebenarnya yang menjadi latar belakang stagnasi desain Web di Indonesia?

Ada beberapa faktor yang menjadikan stagnasasi pengembangan Web dalam hal orisionalitas. Ini antara lain bisa dilihat dari segi klien, sebagai pemegang penuh atas situs yang akan dibikin oleh desainer Web tersebut. Ketika sebuah ide beradu dengan kepentingan, maka yang terjadi adalah bentuk kompromi- kompromi yang sebenarnya kalau tidak diberikan rambu-rambu akan menambah carut marut desain Web Indonesia.

Desainer Web tidak akan memunculkan ide-ide orisinilnya apabila campur tangan klien yang cukup dalam dan banyak dalam proses pengerjaannya. Walaupun klien punya hak penuh, namun memberikan kebebasan pada desainer Web berkreasi dengan imajinasinya akan sedikit banyak membantu khazanah yang akan menjadikan Web Indonesia menjadi terbaik.

Faktor lainnya terletak pada masalah piranti, yang dipisahkan antara piranti yang dipergunakan oleh desainer Web dan piranti yang dipergunakan oleh browser. Untuk piranti para desainer telah diuraikan diatas. Sedangkan yang berkaitan dengan browser harus menjadi perhatian pada desainer Web. Adanya perbedaan antara komputer PC dan Mac buatan Apple Computers mengakibatkan adanya perbedaan penampilan homepage baik dari segi warna, komposisi, hingga fungsi navigasi dan informasi homepage tersebut.

Tak ayal ketidaktepatan di dalam memilih browser, akan mengurangi fungsi situs tersebut. Misalnya, default font pada komputer PC berbeda dengan Apple Mac, termasuk dalam ukurannya. Dari sisi warna, komputer PC tampak super saturated sedangkan untuk Mac, warna tampil lebih washed out (http:// www.glassdog.com/). Dan tidak ketinggalan juga memahami karakteristik browser, ada beberapa browser yang tidak mendukung penuh fungsi yang ada pada situs.

Microsoft mempunyai JScript dan VBScript dan ActiveX yang tidak bisa dijalankan di Netscape. Atau contoh paling sial adalah situs yang mengharuskan adanya beberapa plug-in, seperti Flash Player atau Shockwave Player. Kendala ini sebenarnya telah diatasi oleh desainer Web dengan menambahkan baris pilihan browser.

Faktor pengguna

Faktor lainnya yang tidak kalah penting adalah pengguna. Faktor ini patut diperhatikan oleh desainer Web. Kita bedakan antara pengguna aktif dengan pengguna pasif. Seorang pengguna yang pasif akan menerima apa adanya kendala yang ada ketika sebuah situs ditayangkan sepanjang informasi yang diinginkan telah didapatkan. Akan lebih repot lagi apabila menghadapi pengguna aktif di mana mereka membutuhkan sesuatu yang bisa “dijual” selain informasi tersebut.

Desain dengan hanya mendasarkan warna-warna seragam akan dengan segera ditinggalkan oleh pengguna tersebut. Mereka membutuhkan dukungan informasi dengan sistem navigasi serta “brain effect” yang cukup menggugah selera mereka untuk bisa berjelajah lebih lama lagi. Mampukah desainer Web memahami dinamika ini.

Sepatutnya desainer Web juga memahami karakteristik para penggunanya. Misalnya, pengguna wanita lebih sensitif terhadap warna dibanding dengan pria. Warna merah lebih popular untuk wanita dan warna biru ternyata lebih disukai oleh pengguna pria. Atau hal-hal yang lebih sepele, misalnya, segmentasi pemakai Internet di Indonesia (http://www. detikinet.com/database/survey-apjii/Prelaunch-internet%20survey/ sld010.htm).

Faktor update juga ikut menentukan. Update inilah salah satu senjata desainer Web untuk senantiasa mengasah kemampuannya untuk lebih mempermanis situs yang telah dibuat sebelumnya. Sebenarnya ini adalah pedang bermata dua, di mana ketidaktepatan seorang desainer Web untuk melihat ini sebagai potensi mengasah kemampuan, maka akan selamanya update dianggap sebagai pembenaran.

Faktor penting lainnya adalah tren. Desainer Web sepatutnya mengikuti tren yang berlaku di masyarakat sekarang. Namun, dalam memperhatikan faktor ini tidak mendasarkan diri atas menggali lubang kubur bersama-sama. Inilah sebuah dunia yang tidak bisa memisahkan diri dengan lifestyle yang berkembang. Semua faktor ini seharusnya dapat diatasi dengan kerja sama yang lebih kuat di antara pengguna, penyedia jasa teknologi informasi dan para desainer Web itu sendiri.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s