Belajar Dari Masa Lalu

Sejarah senantiasa menyimpan catatan istimema untuk dipelajari dan dicari makna-maknanya, ditadabburi hikmah-hikmahnya. Di samping kisah-kisah buram yang juga perlu digarisbawahi.

Sekalipun pahit, sungguh tidak ada babakan sejarah yang tidak memiliki arti. Semuanya menyimpan pelajaran yang dalam. Dalam hal ini Islam telah menyimpan berhalaman-halaman yang panjang dan luas tentang berbagai bentuk penderitaan dan kisah sedih. Sebagian besar, kasus yang paling banyak menelan korban adalah karena bersinggungan dengan kekuasaan. Inilah institusi yang paling mudah bergolak bila bendera Islam sudah mulai berkibar dan ditancapkan di tengahnya. Terutama bila kekuasaan itu didominasi oleh orang-orang yang zhalim, ahlul-ma’shiyat, dan penyembah hawa nafsu.

Peristiwa sejarah

Ketika Bani Umayah berkuasa di Damsyk (Syam/Syria), Muawiyah adalah orang yang paling bermusuhan, utamanya dengan tampuk kekuasaan Islam yang dipilih secara mufakat sepeninggalan Rasulullah, yakni Khulafaur-Rasyidin. Puncak kebencian adalah ketika anaknya, Yazid menggantikan kekuasaannya. Yazid kemudian menjadi penguasa tunggal di Damsyk. Ia tidak segan-segan melakukan penekanan dan intimidasi kepada mereka yang dianggap berlainan pandangan. Bahkan cucu Rasulullah Husain ra, bersama para sahabat yang setia dan keluarga Rasulullah yang lain dibantainya di padang Karbala. Kisah itu dalam agenda sejarah Islam menyimpan kenangan buram, hanya demi ambisi kekuasaan Yazid. Celakanya, Yazid justru menggunakan kaum muslimin untuk membantai saudaranya sendiri.

Para pembantai tersebut memang telah terbelokkan ideologinya, dari Islam kepada harta benda. Mereka menjadi gila kepada harta dan jabatan, juga perempuan seperti yang dilakukan oleh Yazid. Hura-hura dan mabuk-mabukan merupakan bagian dari kehidupan Yazid dan sebagian aparatnya. Ummat Islam kemudian terlena, akhirnya penindasan dan kesewenangan terjadi.

Di mana-mana yang namanya kisah sedih, telah pernah terjadi. Di Indonesiapun juga. Setelah sekian lama berada di bawah penjajahan kaum pendatang, ummat Islam masih harus bentrok sesama kaum muslimin selama beberapa puluh tahun. Keretakan itu masih ditambahi lagi dengan kisah pembantaian kaum intelek muslim di saat populernya pemikiran ala komunis. Dan kinipun, setelah pertentangan antar ummat mereda –karena kesadaran ataupun kecapaian– kenyataan membuktikan, ummat Islam belum berada di titik yang cukup membahagiakan. Secara ekonomi, sosial, pendidikan, dan sebagainya, kaum muslimin di Indonesia masih berada di belakang.

Kemenangan dan istighfar

Di bulan-bulan ini, rangkaian prosesi untuk mengingat peristiwa hancurnya PKI sedang gencar digelar. Kita memang patut bersyukur bahwa salah satu musuh utama kaum beriman itu telah lenyap. Mereka yang secara lantang menantang Tuhan dan manusia bertuhan itu kini tidak lagi berani menampakkan wajahnya secara terang-terangan. Setidaknya itu memberikan andil bagi ketenangan kehidupan ummat Islam.

Tapi kondisi ketenangan seperti ini jangan sampai melenakan dan menjadi alasan bagi kita untuk berpangku tangan. Kelompok yang memusuhi Islam tidak akan pernah melepaskan senjata dari genggaman tangannya. Sewaktu-waktu mereka akan menggunakan senjata itu untuk menikam kembali bila kita lengah, atau terlena setelah dibuat lengah.

Kemerdekaan dari belenggu satu musuh bukanlah puncak dari perjuangan. Islam jelas memperingatkan kepada kaum muslimin agar selalu hidup waspasda. Bila datang kemenangan, segera adakan istighfar secara massal.

“Apabila telah datang pertolongan Allah dan kemenangan, dan kamu lihat manusia masuk agama Allah dengan berbondong-bondong. Maka bertasbihlah dengan memuji nama Tuhanmu dan mohonlah ampun kepada-Nya. Sesungguhnya Dia adalah Maha penerima taubat.” (QS An-Nashr: 1-3)

Alam kebebasan, membuka banyak kesempatan untuk berkarya. Termasuk di dalamnya untuk mengembangkan agama. Akan tetapi bila tidak diiringi dengan istighfar, keleluasaan itu bahkan bisa membuahkan musibah. Khususnya bagi ummat Islam, istighfar ini dimaksudkan agar kita tidak lupa diri. Agar kita tetap mempunyai keseimbangan dalam meniti hidup. Agar kemerdekaan tidak berubah menjadi kemurkaan.

Kita tidak menginginkan hidup tertekan oleh penjajahan, juga oleh penguasa yang tidak membawa nama Allah di belakangnya. Hidup di bawah kendali selain nilai Islam, akan membawa kita tersesat, dunia akhirat. Sia-sialah kita hidup, bila akhirnya hanya akan kembali ke neraka.

Karena itulah, di saat musimnya perenungan ini, cobalah untuk ikut-ikut merenung. Bagaimana posisi kaum muslimin dalam percaturan saat ini? Di lingkungan kita, di kampung, di negara, bahkan di dunia? Ummat Islam masih lebih banyak menjadi obyek keserakahan dan penindasan. Kita –karena berbagai kekurangan– masih gampang diperdayakan dan tertipu mentah-mentah. Karena kita melarat, kita mudah tergiur oleh iming-iming uang yang tak begitu banyak. Karena bodoh, kita gampang ditakut-takuti dengan sesuatu yang remeh. Karena tidak kreatif, kita gampang menyerah dan memberikan peluang kepada orang lain. Karena wawasan kita sempit, kita jadi tidak bisa memprediksi masa depan secara tepat. Akhirnya kita baru sadar setelah semuanya terjadi, setelah tanah-tanah kita yang dulu seperti tak berguna kini berubah menjadi pusat bisnis dengan harga melangit.

Jangan keburu langsung menyalahkan. Sebab, kita sendiri juga terlibat dalam proses pemiskinan yang menimpa diri kita dan ummat banyak. Kita memang terlambat sadar. Sekalipun memang, ada juga andil kondisi dan situasi, yang menyebabkan kita tidak punya wawasan berpikir cukup, dan membuat kita tak kunjung kreatif memanfaatkan sumber daya yang kita miliki.

‘Pembodohan’ itu sendiri merupakan salah satu bentuk penjajahan juga. Di alam merdeka, seharusnya kita mendapatkan kesempatan yang sama untuk mengembangkan dan mencerdaskan diri. Tetapi bila kondisi itu tidak kita temui, maka arti dari kemerdekaan tidak lagi terlalu banyak. Kita keluar dari satu bentuk penjajahan, masuk ke bentuk penjajahan yang lain.

Mengambil pelajaran

Lalu apa yang bisa kita lakukan sekarang? Kita ingat firman Allah, “Wahai orang-orang yang beriman, takutlah kepada Allah, dan hendaklah setiap jiwa melihat apa yang sudah terjadi, untuk masa depannya.” (QS Al-Hasyr: 18)

Apa yang sudah terjadi, merupakan pengalaman. Bila itu pahit dirasakan, maka harus diwaspadai agar jangan sampai terulang lagi. Masa depan kita, generasi Islam setelah kita, harus lebih baik dalam segala-galanya. Apakah kita bangga, memiliki generasi penerus yang dimusuhi di mana-mana karena disebut bonek? Bukankah, kalau mereka memang tidak mempunyai pilihan lain, sebenarnya kita juga, orang tuanya, yang menyebabkan kondisi itu terjadi? Mengapa kita biarkan anak-anak itu mendewakan sebuah kesebelasan sampai lupa diri? Belum pernahkah kita mengajari anak-anak kita itu, bahwa yang layak diagung-agungkan hanyalah Allah, dan yang layak diperjuangkan dengan nyawa dan harta hanyalah perjuangan menegakkan agama Allah?

Inilah rupanya, PR kita sekarang. Kita masih harus prihatin dengan banyak hal. Apalagi, di tengah kaum muslimin, mungkin masih banyak juga orang yang memperjuangkan kepentingan musuh Islam. Di antara kita, ada yang membantu mensukseskan upaya memperdayai kaum muslimin. Kita hadapi kenyataan ini dengan ketegaran. Sebab, sekalipun mereka shalat, puasa, dan berhajji, selama tidak membela kepentingan ummat Islam, maka mereka tidak termasuk di antara kaum muslimin, sebagaimana disabdakan Nabi saw,

“Mereka yang tidak peduli dengan kaum muslimin, maka tidak termasuk di antara ummatku.”

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s